Marx’s Real Tradition – Paul Foot

Tradisi Sejati Marx – Paul Foot

Pemberontakan yang besar di Eropa Timur memisahkan kaum sosialis menjadi dua kelompok. Dalam satu kelompok ada kesuraman dan introspeksi. Dalam kelompok lain ada kegembiraan dan kebahagiaan.
Dua kelompok tersebut mewakili dua tradisi yang berbeda, tapi keduanya menyatakan diri sebagai kaum sosialis. Selama seratus tahun terakhir atau lebih, dua tradisi tersebut menjadi saling terjerat. Kita harus menguraikan kelompok-kelompok ini dengan cepat, karena salah satu tradisi tersebut sudah mati: tradisi lain masih hidup. Kecuali mereka dapat membebaskan diri dengan cepat, kelompok yang hidup akan dijatuhkan oleh kelompok yang telah mati.

‘Sejak awal manusia ada,’ suatu suara mengatakan sementara bola bumi berputar pada awal film Cecil B de Mille Samson and Delilah, ‘manusia berupaya untuk mecapai keadaan demokratik di bumi.’ Mungkin apa yang dikatakannya menurut saya sedikit berlebihan (terutama karena suara itu berkelanjutkan untuk menegaskan bahwa, ‘salah satu orang yang berupaya adalah Samson’), tapi di satu sisi ada kebenaran dalam kalimat tersebut.

Sejarah kehidupan manusia adalah sejarah eksploitasi, ada orang yang ingin atau berjuang untuk dunia tanpa ekspolitasi. Orang tersebut menulis cerita utopia mengenai perempuan dan laki-laki yang tinggal bersama dengan kemerdakaan, kesejahteraan dan damai.

Beberapa utopia tersebut berada di surga dan beberapa di bumi. Penghasut-penghasut utopia ini adalah orang yang baik yang melihat mereka sendiri sebagai orang tua yang memimpin anak-anak yang penuh kebingungan kepada tanah perjanjian. Oleh karena itu, mereka sebagai orang-orang baik tersebut, yaitu kaum elitis, dan yang paling elitis adalah kaum ‘sosialis’ utopis dari negara Perancis pada awal abad ke-19. Mereka percaya bahwa pendidikan, perasaan dan keharuan mereka sendiri akan menghasilkan keadaaan masyarakat yang baru.

Di Inggris kata ‘sosialisme’ dulu telah dipopulerkan oleh seorang laki-laki baik tersebut, seperti Robert Owen. Owen membenci eksploitasi yang dilihat oleh sekelilingnya selama Revolusi Industri. Dia mendesak kaum majikan yang baik untuk membangun pabrik seideal mungkin, di mana para pekerja mendapatkan baju, makanan, pendidikan dan belajar tentang seni.

Itu tidak hanya sebatas perkataan, tapi dia juga mempraktekkan hal tersebut. Jika anda jalan-jalan ke daerah Lanark di Scotlandia, anda dapat melihat hasil yang dipertahankan: yaitu pabrik Owen yang mana cita-citanya dapat terealisasikan, akan tetapi dampak daripada eksploitasi di Scotlandia Barat atau negara dimanapun masih terjadi.

Lanark dan utopia-utopia yang lain tersebut dibenci oleh Karl Marx pada waktu dia masih muda. Pada saat itu Marx percaya bahwa untuk pertama kalinya selama sejarah, eksploitasi bisa dihentikan secara definitiv. Sampai saat itu, tidak ada yang cukup untuk diproduksi dan dibagi pada semua orang. Oleh karena itu, jika mau ada kemajuan, nilai lebih perlu diambil oleh kelas penguasa.

Sesudah kemajuan produksi selama Revolusi Industri ada cukup kebutuhan untuk semua orang. ‘Sosialisme’ menjadi hal yang bisa dibahas (seperti di Jerman dari tahun 1842, ketika Marx berumur 24 tahun). ‘Sosialisme’, suatu keadaan masyarakat yang dimana barang diproduksi dan didistribusikan secara sosial, yaitu sesuai dengan kebutuhan setiap orang dan menjadi kaya dari tenaga kerja orang lain dianggap sebagai kejahatan.

Bagaimana kemudian masyarakat seperti itu dapat terjadi? Apakah akan pasti terjadi karena masyarakat tersebut sudah jelas adil dan baik? Apakah kaum industrialis, tuan tanah dan bankir-bankir tiba-tiba terkena dengan sesuatu hal yang akan menunjukkan mereka bagaimana mengerikan kekayaannya ketika ada banyak kemiskinan, sebagai contoh St Paul berpura-pura ketika dia berjalan ke Damascus dia terkena oleh cahaya yang kuat.

Dari Marx muda, dia telah mengakui kejamnya kekuasaan kelas. Ia melihat bagaimana kelas penguasa berkelakukan seperti vampir. Mereka mengisap darah, yang menyebabkan mereka menjadi haus dan menginginkan darah tersebut lebih banyak. Seperti vampir, mereka menolak permohonan untuk belas kasihan. Marx mengakhiri pernyataan tersebut, mereka akan melepaskan kelebihannya hanya pada saat bahwa kelebihan itu direbut oleh kelas yang dirampas. Jadi alasan pertama bahwa Marx mencerca semua orang yang berkolaborasi dengan sistem kapitalis adalah karena mereka membuat penghapusan sistem tersebut serta penciptaan masyarakat sosialis, menjadi lebih sulit.

Namun, ada alasan kedua yang bahkan lebih penting untuk Marx dan kawannya, Frederick Engels. Mereka menghadapi argumen yang kita sering mendengar dewasa ini. Bahwa ‘Kelas buruh menjadi terbelakang, kurang berpendidikan, rasis, kotor dan jahat. Bagaimana kelas yang seperti ini, dapat menciptakan masyarakat baru yang bebas dari eksploitasi dan ketakutan?’

Lalu Marx bereaksi dengan marah terhadap pertanyaan dan caci makian tersebut. Deskripsi dia adalah, sebagai contoh tentang pertemuan pekerja di Paris yang terjadi pada saat ketika dia diasingkan di sana pada pertengahan tahun 1840-an, yang kemudian penuh dengan kekaguman. Namun, dia tahu bahwa eksploitasi masyarakat menyebabkan orang dari kaum buruh menjadi brengsek dan kaum pemeras menjadi monster.

Marx mengetahui bahwa beberapa abad eksploitasi telah meninggalkan massa yang penuh dengan omong kosong. Dan hal tersebut adalah alasan terpenting untuk sebuah perubahan atau revolusi:
‘Revolusi dibutuhkan, tidak hanya karena kelas penguasa tidak bisa digulingkan dengan cara lain, tetapi juga karena kelas yang menggulingkannya, hanya dalam proses revolusi, kaum buruh dapat berhasil dalam membersihkan diri dari kotoran yang dari usia dan menjadi siap untuk mendirikan masyarakat lagi.’
Ayat itu termasuk dalam The German Ideology, yang ditulis pada tahun 1847, ketika Marx berumur 29 tahun; dan tema- yaitu pentingnya pembebasan diri kaum buruh- begitu seterusnya ketika tulisannya berjalan. Tema tersebut adalah elemen kohesif untuk Marxisme.

Ketika pada tahun 1864 dia menulis prinsip-prinsip untuk Internasional Pertama Asosiasi Buruh Laki-Laki, klausul pertama yang dia tulis mengatakan bahwa, ‘mengingat bahwa pembebasan kaum buruh harus dicapai oleh kaum buruh sendiri…’

Klausul ini ditulis di kartu keanggotaan setiap anggota Internasional. Tujuh tahun setelah pembentukan Internasional itu, kaum buruh di Paris bangkit, membebaskan diri dari kotoran lama serta membangun administrasi mereka sendiri yang sepenuhnya tanpa eksploitasi. Marx, dengan demam kegembiraan dan kegairahan, menulis suatu pamflet yang mungkin menjadi politik terkuat di seluruh sejarah. Dalam pamflet itu dia bersikeras bahwa pencapaian terbesar Commune Paris tersebut adalah pembebasan diri kaum buruh:

‘Mereka sudah mengambil pengelolaan revolusi itu ke tangan mereka sendiri dan menemukan sarana untuk memegangnya di tangan rakyat sendiri; menggusur mesin kelas penguasa dengan mesin kepemerintahan oleh mereka sendiri. Ini kejahatannya yang tidak terlukiskan!’
Tema yang paling konsisten di semua tulisan Marx adalah semangat ini untuk potensi kaum buruh dalam sebuah perjuangan. Itu kelihatan dalam ide Marx semanjak dari awal, ketika sebagai wartawan muda dia menyebut dirinya ‘demokrat ekstrim.’

Para marxis vulgar yang dari sekolah birokratis (‘Marxis’ yang Marx dan Engels memandang rendah pada waktu mereka masih hidup) merasakan ada ‘perubahan besar’ dari jurnalisme awal Marx yang idealis hingga karya dia yang kemudian ilmiah. Perubahan tersebut tidak diakui oleh Marx. Sebaliknya, dia melihat bahwa dia mengembangkan kepercayaan bergairahnya dalam demokrasi ke kepercayaan dalam komunisme.

Komunisme yang ditimbulkan oleh kaum buruh yang sedang bergerak adalah masyarakat terdemokratik yang dibayangkan karena itu terjadi dengan tindakan demokratik dan menghapus aspek yang paling tidak demokratis: yaitu ekploitasi ekonomik terhadap mayoritas oleh minoritas. Mungkin dari tahun 1845 Frederick Engels menjeleskan ini dengan bahasa sederhana:

‘Demokrasi dewasa ini adalah komunisme… Demokrasi sudah menjadi prinsip proletar, prinsip untuk massa… Partai-partai proletar benar sama sekali untuk memakai kata ‘demokrasi’ pada spanduk mereka.’
Inspirasi demokratik dan kepercayaan di pembebasan diri (yang merupakan bagian dari hal yang sama) adalah barang yang perlu untuk Marxisme. Tanpa hal-hal ini, semua ekonomi yang dibangun dengan hati-hati serta semua filsafat tekun, akan membusuk. Semangat pemberontakan, kebutuhan untuk pertempuran kelas melawan eksploitasi- hal-hal ini adalah penangkal terhadap determinisme tersebut yang sering dituduhkan untuk Marx.

Pernyataan terkenal bahwa ‘orang membuat sejarahnya sendiri tetapi mereka tidak dapat memilih bagaimana sejarah itu dibuat’, biasanya dikutip oleh kaum Marxis dengan penekanan pada semuanya yang setelah ‘tetapi’. Sebenarnya, aksentuasi dalam kalimat ini adalah laki-laki dan perempuan menentukan apa yang terjadi kepada mereka. Poin bahwa mereka harus bekerja di dalam keadaan kesejarahan yang sudah ditetapkan bagi mereka adalah dibuat hanya untuk memastikan mereka berjuang dengan lebih efektif.

Tidak lama setelah Marx meninggal (pada tahun 1883), sebuah ancaman baru muncul terhadap perjuangan yang dia percaya akan segera dimenangkan. Para pria yang menyebut diri Marxis menjadi kepala ‘gerakan buruh besar’, serikat buruh luas, terbitan sosialis serta kelompok olahraga sosialis.
Para pria tersebut mulai bertanya-tanya apakah semua pembicaraan ini mengenai revolusi tidak berkelebihan? Mereka merasa bahwa mungkin mereka akan mencapai posisi kekuasaan dan pengaruh dan jika itu terjadi, mereka dapat membuat undang-undang untuk sosialisme tanpa harus mengalami revolusi yang kacau dan mungkin berdarah. Dengan demikian, pada akhir tahun 1890-an Edward Bernstein, seperti banyak orang sesudah dia, mengusulkan kepada massa bahwa dunia mereka bisa diperbaiki secara bertahap dan damai. Memilih di suara rahasia adalah satunya hal yang dibutuhkan. Bagi Bernstein (dan bagi Karl Kautsky meskipun hanya beberapa orang melihat kemunduran dia pada saat ini) ide jutaan buruh mengemansipasi sendiri di jalan dan pabrik adalah agak tidak menyenangkan, jika tidak berbahaya sama sekali.

Karya-karya kelompok pria tersebut (kecuali di pinggiran: Bernstein tentang Cromwell; Krautsky tentang Christianity) tidak bertahan dengan relevansi hari ini. Suatu hal yang masih bertahan adalah balasan marah yang dikirim ke Bernstein dan lain-lain oleh revolusioner Polandia, Rosa Luxemburg.
Balasan dia datang dalam dua bagian: Reformasi Sosial atau Revolusi (1900) dan Pemogokon Massa (1906). Tema bersama untuk kedua pamflet itu, elemen yang mengangkat pamflet-pamflet ini di atas semua tulisan politik kontemporer lain dan membuat pamflet-pamflet tersebut sangat penting hari ini, adalah ‘sekolah politik hidup’, ‘daging dan darah yang berdenyut’, ‘gelombang berbusa’ yaitu kaum buruh dalam perjuangan.

Luxemburg berjuang seperti harimau untuk prinsip pokok Karl Marx: bahwa kaum buruh hanya bisa dibebaskan jika mereka sendiri menggulingkan masyarkat kapitalis. Ia bersukacita dalam Revolusi Rusia pada tahun 1905 yang dalam beberapa minggu menghancurkan suatu absolutisme yang memerintah (walaupun berbagai para reformis yang mencoba membuatnya lebih baik) selama berabad-abad. Ia bergembira dari sel penjara tentang Revolusi Rusia pada tahun 1917.

Kaum sosialis revolusioner Rusia, lebih daripada orang lain dalam semua sejarah, memahami desakan Marx terhadap pembebasan diri. Di mana Marx memanggil untuk itu dan mendorongnya, kemudian mereka melaksanakan hal tersebut.

Para sejarawan dan komentator yang reaksioner mengatakan kepada kita bahwa disiplin ketat Partai Bolshevik membuatnya suatu organisasi yang tidak demokratik dan berdedikasi kepada pemerintahan kaum buruh, bukan mewakili mereka. Kebenaran adalah persis kebalikannya.

Partai Bolshevik menang mayoritas soviet pada musim seni dan musim panas tahun 1917 justru karena mereka mempunyai posisi terhadap kekuasaan, keyakinan dan potensi kaum buruh Rusia. Di Negara dan Revolusi dan Revolusi Proletar dan Kautsky Khianat, Lenin mengecam keras demokrasi parlementer karena itu tidak cukup demokratik. Dengan demokrasi parlementer mesin kapitalis masih utuh. Demokrasi tersebut menghapus wakil-wakil kelas pekerja dari suasana koperatif kehidupan sehari-hari di pabrik, tambang dan kantor.

Lenin, dalam bukunya yang berjudul ‘Negara dan Revolusi’, mengulangi kepercayaannya terhadap ‘prinsip elektif’ sebagai landasan masyarkat sosialis baru. Ia mengulangi lagi berbulan-bulan dan bertahun-tahun sesudah Oktober bahwa kaum buruh yang sudah membebaskan diri sendiri adalah satu-satunya harapan untuk revolusi itu. ‘Saya menghitungnya,’ kata Lenin:

‘semata-mata pada kaum pekerja, tentara dan petani yang mampu menyelesaikan, lebih baik daripada polisi atau pejabat, masalah-masalah yang praktis dan sulit yaitu memproduksi makanan dan distribusi, penyediaan tentara yang lebih baik, dll.’

Ia memberitahu Kongres Seluruh Rusia Pertama Soviet pada Januari, 1918:

‘Dengan melaksanakan penguasaan pekerja, kami tahu bahwa berberapa waktu dibutuhkan sebelum itu tersebar ke seluruh Rusia, tetapi kami mau menunjukkan bahwa kami mengakui hanya satu jalan- perubahan dari bawah: kami ingin kaum buruh sendiri menyusun, dari bawah, prinsip-prinsip baru kondisi ekonomik.’

Inspirasi Lenin, kalau kurang flamboyant, adalah persis sama dengan inspirasi Marx dan Luxemburg. Sosialisme mereka bergantung pada masyarakat yang eksploitatif menjadi pengulingan dalam perjuangan kaum buruh. Oleh karena itu, Lenin menyadari bahwa tanpa kelas revolusioner kaum pekerja yang membebaskan diri, sebuah revolusi akan ‘binasa’.

Kematian tersebut terjadi, justru karena alasan itu. Para emansipator diri, kaum buruh Rusia yang kecil, dimusnahkan dengan perang dan kelaparan. Pada tahun 1921, semua yang tersisa adalah lapis teratas yaitu birokrasi para revolusioner tanpa kelas yang menempatkan mereka di sana.

Kaum pembebas diri itu diganti oleh pekerja-pekerja dari desa yang tidak membebaskan mereka sendiri atau orang lain. Revolusi di Jerman dikalahkan. Revolusi di Inggris tidak pernah dimulai. Rusia terisolasi, revolusi inspirasinya padam. Revolusi tersebut kalah. Demokrasi Soviet diganti dengan kezaliman kapitalis negara. Sedih untuk mengatakannya, akan tetapi, kebanyakan kaum sosialis dan komunis di seluruh dunia tidak melihat bahwa revolusi itu kalah. Hampir tidak kentara, kaum komunis yang dibesarkan dengan percaya bahwa pembebasan kaum buruh harus dilakukan oleh kaum buruh, menjadi penyembah berhala dalam tradisi utopis lama, jatuh di kaki Stalin sebagai Bapak Sosialisme yang penuh ‘kebaikan’.

Atas nama Marxisme, hakikat Marxisme yaitu semangat yang pembebasan diri dan demokratik, pada mulanya dilupakan, dan kemudian diejek serta dikutuk. Kediktatoran di atas kaum proletar menjadi pujian sebagai kediktatoran proletar. Membunuh lawan-lawan dianggap sebagai pujian disiplin demokratik. Komunisme dan demokrasi yang sinonim untuk Engel, menjadi berlawanan tepat untuk kaum Stalinis.

Lebih diduga, para anti-komunis membuat salah yang sama. Mereka mengatakan bahwa ada garis langsung dari Lenin ke Stalin dan semua revolusi entah bagaimana berakhir dengan kezaliman. Jawaban untuk orang tersebut adalah sederhana.

Untuk semua rasisme dan kepicikan dia, Stalin membungkuk kediktatorannya terhadap satu tujuan pusat: memeras dari Rusia setiap nafas hidup tunggal revolusi tersebut. Ia membunuh semua mantan rekan Bolshevik- kecuali Lenin yang meninggal cukup awal untuk dijadikan (melawan segala-galanya yang dia percaya) ikon lain. Keputusan-keputusan revolusioner dicabut dan diganti dengan perlawanannya.

Penguasaan pabrik diganti oleh manajemen satu orang; perbaruan pendidikan oleh reaksi pendidikan; internasionalisme oleh nasionalisme dan rasime; pelegalan aborsi gratis oleh peraturan aborsi yang kaku. Hukuman mati untuk kejahatan berat yang dihapuskan oleh revolusi menjadi berlaku kembali. Hak istimewa, pembantu dan semua perlengkapan ‘keunggulan’ kelas penguasa menjadi biasa lagi.

Semua kejadiaan ini dilihat oleh seluruh dunia sebagain sosialisme- walaupun inti sosialisme yaitu
kekuasaan dari bawah menjadi persis kebalikan, kekuasaan dari atas.

Setelah Perang Dunia Kedua, tragedi tersebut terulang dan jika Marx masih hidup maka dia akan mengatakan, bawah ini adalah lelucon. Selama bertahun-tahun beberapa wilayah diambil oleh negara kemenangan, Rusia mengambil enam negara di Eropa Timur. Tidak satu pun dari negara ini yang kaum buruhnya sudah dapat membebaskan diri. Yang terjadi adalah kebalikannya, pembebasan tersebut dipaksakan oleh bayonet-bayonet Rusia.

Replika kezaliman kapitalis negara Stalin didirikan di Hongaria, Cekoslowakia, Romania, Bulgaria, Polandia dan Jerman Timur. Kaum buruh tidak memainkan perannya dalam satu pemerintahan yang ada. Mereka bahkan tidak mempunyai hak untuk memilih pemerintah tersebut, berbeda dari kebanyakan kaum buruh di Barat yang mempunyai hak untuk memilih. Perlawanan apapun, terutama perlawanan di tempat pekerjaan, bertemu dengan represi mengerikan. Pemberontakan di Hongaria, Cekoslowakia, Polandia dan Jerman Timur dihentikan oleh tank-tank.

Ekonomi negara-negara tersebut dirusak dan dipakai untuk rezeki imperialisme Rusia Besar. Birokrasi kelas penguasa mengatur diri di bayangan Stalin.

Negara-negara ini menjadi dikenal sebagai ‘negara sosialis’. Hubungannya dengan Rusia, atau ekonomi yang ‘direncanakan’ atau retorik sosialisnya menyakinkan ratusan ribu kaum sosialis di negara lain bahwa dalam intinya, negara ini sosialis. Kata ini juga tersebar di negara-negara Eropa Timur ini tetapi dengan hasil yang berbeda.

Di negara tersebut, di mana kaum buruh tahu mereka menghadapi teror, sosialisme menjadi sinonim untuk kediktatoran kekejaman dan sebuah eksploitasi. Sosialisme yang pada intinya membebaskan kaum proletar diganti menjadi perbudakan. Dan pemberontakan melawan kezaliman itu terjadi, dan dipimpin oleh kaum buruh akan tetapi juga menolak apapun yang menyebut dirinya ‘sosialis’.
Sekarang, banyak kaum sosialis yang menghabiskan sebagian besar hidup mereka dengan sikap berharap terhadap ‘negara-negara sosialis’ dan akhirnya meninggalkan politiknya. Beberapa kaum sosialis tersebut menyerahkan semua komitmen politiknya. Beberapa kaum sosialis tersebut sangat sedikit menempatkan imam mereka di ‘revolusi dari atas’ yang mereka bayangkan setelah digerakan oleh Mikhail Gorbachev. Yang lain, mungkin mayoritas, telah meninggalkan pembicaran revolusi, dan sekarang bekerja untuk ‘perbaikan dari atas’ di Partai Buruh dan partai lain seperti ini.

Dunia ini dimana kita hidup sekarang tidak terlalu berbeda dari dunia yang Marx gambarkan. Dunia ini masih dijalankan dengan eksploitasi. Kapitalisme yang bobrok dan bersifat seperti penyakit kanker masih menggerogoti kehidupan kebanyakan orang di dunia ini. Tidak ada isyarat bahwa ‘perbaikan dari atas’ menyebabkan kekuatiran untuk kapitalisme bahkan untuk sesaat. Kapitalisme itu memukul ke samping para reformis dengan sinisme sesederhana sama yang diekspos oleh Marx.

Perbedaan besar adalah kaum buruh yang masih membawa harapan perubahan adalah jauh lebih besar sekarang dibandingkan dengan zaman Marx. Sementara komentator-komentator mutakhir bersikeras bahwa kaum buruh sedang menghilang, ternyata kaum buruh bertambah dengan ratusan ribu setiap tahun dan jutaan setiap dasawarsa. Rusia sekarang mempunyai 60 juta pekerja industri yang terekploitasi: China lebih daripada 100 juta dan di dalam massa yang lapar, organisasi-organisasi baru timbul, seperti yang diprediksi oleh Rosa Luxemburg, ‘seperti Venus dari busa.’

Peristiwa-peristiwa di Eropa Timur sudah membuktikan, tidak seperti hal lain di 50 tahun terakhir, bahwa perubahan sosial yang vulkanik dan tiba-tiba tidak terjadi ketika makelar saham meramalkan itu atau akademik yang menghitungnya. Perubahan tersebut terjadi ketika massa bergerak, berusaha untuk membebaskan diri dan di dalam proses, di penyataan terkenal Marx, ‘mendidik diri, para pendidik.’

Diktator dan birokrasi dapat menyebut diri mereka sosialis selama waktu yang lama. Pada akhir tindakan massa akan mengeksposnya dan mulai lagi untuk mengungkapkan hal-hal sebagaimana adanya. Ekonomi industry yang ‘direncanakan’ untuk kepentingan minoritas yang militeristis dan bersifat parasite adalah bukan sosialis. Itu kebalikannya: kapitalis negara.

Jika kapitalisme negara ‘ditaklukkan’ oleh massa yang membebaskan diri sendiri, kemudian massa itu akan membukakan jalan untuk menaklukkan semua kapitalisme.

Kebutuhan mendesak untuk kaum sosialis adalah menendang mayat busuk kapitaslime negara dari ‘sekolah hidup’ Rosa Luxemburg, sosialisme yang membebaskan diri; menegaskan dengan agresif tradisi sosialis yang dimulai oleh Marx dan Engels kemudian dilanjutkan oleh Luxemburg, Lenin, Trotsky dan para revolusioner Rusia serta kelompok kecil kaum sosialis yang tahu dari awal bahwa sosialisme dan demokrasi adalah sinonim yang hanya dapat dicapai ketika massa yang tereksploitasi menggunakan kekuasaannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here