Hal Draper

Marxisme dan Serikat Buruh

I. Marxisme dan Serikat Buruh

Sudah saya ditanya, dalam kaitannya dengan kelas ini, ada apa untuk dibaca tentang subyek Marxisme dan Serikat Buruh. Dan jawabannya adalah, mungkin mengejutkan, hampir tidak ada apa-apa. Alasannya saya sebutnya adalah, seperti Marxis cenderung mengatakan, itu bukan kebetulan. Salah satu alasan untuk kelangkaan bahan bacaan tentang subyek yang rupanya di pusat teori Marxisme adalah bahwa, intinya, tidak pernah ada kelompok Marxis yang menjalankan pekerjaan revolusioner yang sistematis dalam serikat buruh.

Bagaimana dengan Partai Bolshevik? Saya kira Lenin mau, tetapi serikat belum sah di bawah Ketsaran Rusia. Dia tidak punya kesempatannya, dan tentu saja dia menghadapi keadaan yang berbeda. Akan tetapi (dan saya tidak akan membahasnya di sini), seluruh persoalan mengenai aktivitas dan hubungannya antara kaum Bolshevik dan serikat buruh yang muncul penting dan menarik. Tetapi itu keadaan yang rahasia dan tidak sah, bukan sebagaimana yang kita berurusan.

Ada orang lain? Mungkin anda dengar selentingan bahwa gerakan Sosialis Jerman pernah Marxis pada mulanya, sebelum Perang Dunia Pertama. Mereka pernah menjalankan pekerjaan Marxis revolusioner dalam serikat buruh? Pada masa gerakan sosialis Jerman yang paling revolusioner mereka tidak melakukan pekerjaan revolusioner dalam serikat buruh. Bagaimana Rosa Luxemburg? Tidak, pandangannya perihal pertanyaan ini dahsyat dan secara keseluruhan bertentangan dengan Marx.
Sini sana dalam gerakan sosialis pernah ada pengalaman yang penting. Eugene Debs, misalnya, meski tidak dari sudut pandang pemakaian teori Marxis revolusioner untuk serikat buruh, muncul dari perjuangan yang militan dan revolusioner secara obyektif dalam serikat buruh. Ada contoh lain, tetapi tidak ada yang besar.

Jadi kita melihat di sini sebuah subyek yang paradoksikal. Di satu pihak, pada dasarnya, timbul pertanyaan pokok Marxisme, yaitu hubungan antara Marxisme dan gerakan buruh. Di lain pihak, selama seabad tidak ada apa-apa yang ditulis tentangnya dan pekerjaan Marxis revolusioner dalam serikat buruh sangat sedikit. Dan biarkan saya mengingatkan anda tentang fakta lain tentang gerakan serikat buruh dan gerakan sosialis. Yaitu, sebelum Marx terjadi setengah abad sosialisme – dan kiranya berapa sosialis pada masa itu yang menyenangi serikat buruh? Jawabannya – tidak ada.

Pandanglah sebentar. Inggris adalah tanah air serikat buruhisme, bukan? Kapitalisme pertama kalinya muncul di sana dan diiringi serikat buruhisme. Sosialisme timbul di Inggris berdasarkan anti-serikat buruhisme. Owenisme adalah anti-serikat buruh. Lebih mengejutkan, gerakan Chartisme juga anti-serikat buruh, termasuk sayap revolusioner Chartisme. Dengan istilah anti-serikat buruh maksud saya adalah sikap yang negatif terhadap gerakan serikat buruh. Pada umumnya, sikapnya seperti, “gerakan politk adalah utama dan serikat buruh adalah alat reformis yang jelek dan bukan urusan kami, karena kami tertarik sesuatu yang lebih besar.”

Berkaitan dengan itu, padahal, ada poin sejarah yang paradoksikal yang mestinya diajukan. Kaum Chartis memperjuangkan rentetan tuntutan politik yang dianggap mereka sama dengan revolusi sosial. Pada kenyataan, melihat kebelakang, kita tahu bahwa semua bagian penting dari piagam yang kaum Chartis perjuangkan nanti dilaksanakan oleh kaum burjuis. Namun gerakan serikat buruh, yang mereka memandang rendah, masih berjuang – mungkin tidak pada tingkat yang sama, tetapi untuk hal-hal yang sama. Program mereka tidak terlaksanakan oleh kaum burjuis – tidak bisa, kenyataannya. Maka, perbedaan antara jadi revolusioner pada suatu zaman dan pada zaman yang lain yang tingkat perjuangannya lebih rendah, tidak mengalir dari semangat revolusioner orang yang terlibat, bahkan dari sesuatu yang lain.

Bukan saja pertanyaan tentang gerakan sebelum masa Marx. Selama abad ke-19 anda bisa mencari dimana-mana dan tanyakan diri anda: “Siapa saja yang menyenangi serikat buruh?” Dan jawabannya masih adalah, dengan perkecualian gerakan Marxis, hampir tak seorang. Hanya Marxisme sebagai teori sosialis yang pro-serikat buruh.

Poin yang menarik perhatian saya bukan saja bahwa Marx adalah sosialis pertama yang menyenangi serikat buruh. Pada pokoknya Marxisme dulu dan sekarang adalah satu-satunya sosialisme yang mendirikan sambungan utuh antara sosialisme dan perjuangan untuk revolusi sosial dan serikat buruhisme. Sambungan tersebut tidak ada untuk sosialisme lain. Perihal teori sosialis, Marxisme adalah satu-satunya yang mendirikan sambungan utuh antara serikat buruhisme dan revolusi sosial yang memandang gerakan serikat buruh sebagai fakta revolusioner, kalaupun serikat buruh sendiri bukan revolusioner.

Tentu saja pada akhir abad ke-19 serikat buruh sudah jadi mapan dan semua orang menyukainya. Waktu sudah mapan, serikat buruh menerima banyak sokongan, tetapi pada waktu itu semuanya tidak berarti. Oleh karena serikat buruh memperjuangkan reforma, mereka disayangi oleh beragam aliran reformis. Namun, pada perputaran abad, muncul satu lagi segi. Tidak lagi benar bahwa hanya kaum Marxis yang menyukai serikat buruh. Akan tetapi, yang masih benar adalah bahwa setiap orang yang menganggap diri sebagai sosialis revolusioner bersikap negatif terhadap serikat buruh, kecuali kaum Marxis, karena alasan yang sebagaimana kaum Chartis: “Kami kaum revolusioner, mereka organisasi reformis – kami berurusan apa dengan mereka?”

Di setiap negeri, hampir setiap jenis calon revolusioner – kecuali, lagi, kaum Marxis – sudah mengambil sikap negatif terhadap serikat buruh. Sikap ini mengambil bentuk yang berbeda. Satu bentuk tertentu adalah sindikalisme di Perancis. Ini gerakan serikat buruh – bukan? Ya dan tidak. Tetapi gerakan tersebut mempunyai sikap yang negatif terhadap gerakan serikat buruh massa. Yang saya bicarakan juga asal-usul sektarianisme lama di Inggris yang mengebiri Marxisme di bangsa itu selama seabad. Yaitu, membelah sosialisme Inggris menjadi sosialisme reformis di satu pihak dan kaum sektarian yang memanggil diri sebagai Marxis di lain pihak. Dan, tentu saja, ada Partai Sosialis Buruh Amerika (American Socialist Labor Party – SLP).

Ada cara-cara yang berbeda untuk jadi negatif terhadap gerakan serikat buruh. Umpananya, SLP pada masa DeLeon tidak melawan serikat buruh. Mereka memihak serikat buruh yang revolusioner, serikat buruh SLP, yang merupakan serikat buruh yang hebat, tinggal satu kekurangan – mereka kekurangan keberadaan. Pada masa awal Komunis Internasional terdapat penjamuran sudut pandang yang dipolemikkan Lenin dalam Komunisme Sayap Kiri – yang perihal serikat buruh berarti sikap negatif terhadap serikat buruh reformis massal.

Jadi, di luar Marxisme belum ada sosialisme revolusioner yang berasaskan teori yang bertujuan menyambungkan perspektif revolusionernya dengan dukungan untuk gerakan serikat buruh yang nyata. Pertanyaannya adalah – kenapa?

Jawabannya, pertama, adalah soal yang biasa, sesuatu yang tidak pernah dipahami oleh gerakan Marxis: bahwa hanya saja Marxisme dapat membuat hubungan antara gerakan serikat buruh dan perspektif sosialis revolusioner, oleh karena hanya Marxisme berpandangan kelas terhadap perjuangan sosial. Gampang, bukan? Pandangan kelas terhadap perjuangan sosial merupakan A dari ABC Marxisme. Setiap orang tahu itu, tetapi tidak ada yang tahu itu – pandangan tersebut jarang sekali dibiasakan perihal gerakan serikat buruh. Sampai digunakan terhadap hubungan antara Marxisme dan gerakan serikat buruh, belum dipahami secara keseluruhan. Mari kita menyimaknya.

Sudah dikatakan, dan betul itu, bahwa Marx tidak menemukan teori perjuangan kelas tentang sejarah. Yang khusus tentang Marxisme adalah bahwa hanya Marxisme mendasarkan sosialismenya pada perjuangan kelas. Itu juga usulan biasa yang lebih dari memenuhi mata. Sekte saingan Marxisme melihat sosialisme terutama sebagai kumpulan ide untuk dipropagandakan. Bagi Marx tidak begitu.
Bagaimana caranya mempropagandakan? Agar mempropagandakan diperlukan orang untuk berbincang. Maka orientasinya menurut suatu tujuan yang tertentu. Sekte-sekte sosialis atau revolusioner sudah berorientasi menurut tujuan yang berbeda, dan itu caranya membedakan diantaranya. Sebagai contoh, kaum anarkis pengikut Bakunin berorientasi pada kaum lumpen yang termiskinkan, baik dalam tesis teoretis maupun dalam praktek. Partai Sosialis Revolusionaris di Rusia berorientasi pada para petani, sedangkan kaum Fabian pada kelas menengah. Kelompok sosialis yang lain sudah terorientasi pada kaum intelektual, sementara lain lagi pada kelas buruh. Mereka berorientasi pada kaum pilihannya karena yakin akan potensi perekrutannya. Nah, itu satu cara memandang seksi sosial. Bukan gerakan kelasnya sendiri yang membangun kembali masyarakat – melainkan ‘pasukan’ anda. Guna tujuannya merekrut pasukannya, anda berorientasi pada sektor masyarakat yang berbeda.

Ada perbedaan antara orientasi semacam itu. Misalnya, sosialis pertama yang memutuskan menganut orientasi kelas buruh adalah Saint-Simon. Dia sangat jelas dalam benaknya – dia bilang kepada kelas buruh dengan kata: “Ide-ide saya benar, anda mengambilnya kemudian meyakinkan majikan anda tentang apa yang seharusnya dia lakukan untuk memberlakukan ide-ide Saint-Simonisme.”
Lassale secara sadar berorientasi pada kelas buruh karena kepercayaannya atas kelumpuhan kaum burjuis. Dia berorientasi pada kelas buruh untuk mengerahkan pasukan Lassale. Che Guevara menganut “orientasi kelas” terhadap kaum tani Bolivia; itu tidak berarti bahwa dia menganggap mereka akan memimpin gerakan dia!

Nah, pendekatan itu sama sekali asing bagi Marxisme. Bagi Marx, dan Marx sendiri, pentingnya sosialisme kelas buruh bukan hanya karena dengan orientasi tersebut kelas itu dapat dimanfaatkan sebanyak mungkin, melainkan oleh karena kelas itu, waktu bergerak, mengguncang dasar-dasar masyarakat kapitalis. Ini pernyataan tentang kelas buruh yang tidak ada padanannya dalam orientasi lain. Konsepsi khusus tentang sosialisme kelas buruh bagi Marx bukan sejenis dengan orientasi kelas lain. Itu pandangan tentang sosialisme kelas buruh yang berbeda sama sekali. Oleh karena itu, tujuan utama bagi gerakan Marxis bukan pemanfaatan kelas buruh sebagai kelompok untuk direkrut yang paling teralienasi.

Pendekatan Marx cukup berbeda. Itu berawal dari sudut pandang bahwa alasannya kenapa kelas buruh, sekali bergerak, mengguncang dasar-dasar masyarakat kapitalis tidak pokoknya psikologis, bahkan ekonomis. Yaitu, bahwa kapitalisme tidak dapat, dalam jangka panjang, memecahkan masalah menyediakan hidup yang manusiawi bagi massa.

Sudah anda mendengar itu pula. Tapi taruhnya pada tempatnya. Usulan ini memberikan dasar untuk pendekatan Marxisme, dan tanpanya tidak ada pendekatan kelas, dan tidak mungkin ada. Bila salah, tidak ada alasan untuk tidak jadi liberal yang baik.

Hal ini kini sangat relevan karena keseringan, dalam kalangan yang menganggap diri sebagai revolusioner, dihadapkan dengan ide bahwa kapitalisme sudah menunjukkan dapat memecahkan masalah ekonomi, dan oleh karena itu tugas-tugas sosialisme harus dilihat dengan cara yang lain. Seperti apa? “Taraf hidup,” alienasi, dll. Kini terdapat label yang dikenakan pada pendekatan Marxis; yaitu “konsumerisme.” Istilah ini bersangkutan dengan sikap yang sangat negatif terhadap penghargaan atas hal-hal seperti menyekolahkan anak, mendapat kenaikan gaji, dan nilai-nilai “burjuis” lain.

Kenyataannya, pokok dari gerakan serikat buruh, selama merupakan perjuangan untuk hidup yang layak buat rakyat, masih ekonomis pada intinya. Dan kapitlisme belum menyelesaikan masalah ekonomisnya. Siapapun yang meyakini sebaliknya harus menarik beberapa kesimpulan. Salah satunya bahwa tidak bisa mendasarkan sosialisme pada sudut pandang kelas. Para ideolog burjuis kecil seperti Marcuse dan Max Nomad memandang rendah kelas buruh karena dianggap terlalu tertarik dengan mendapat hal-hal terkait hidup yang baik. Tapi, mungkin sudah anda perhatikan, dalam kerusuhan kampung 3 tahun yang lalu kaum kulit hitam, dengan kebencian akan masyarakat kapitalis, tidak lari ke toko serba ada mencuri buku-buku Marcuse guna memperbaiki jiwanya. Pada kenyataannya, mereka cukup merosot akhlaknya sampai mau mengambil televisi – “konsumerisme.”

Mencari “arti hidup” hanya menjadi tugas bagi sektor-sektor masyarakat yang, hakikatnya, masalah ekonominya sudah dipecahkan, dan yang melihat masalah masyarakat dari sudut sektornya sendiri. Itu kenapa saya tidak ragu-ragu mengatakan bahwa sudut tersebut merupakan ideologi burjuis kecil yang tipikal.

Dapat ditanyakan saat ini: apa hubungannya dengan perjuangan non-ekonomis yang terjadi dalam gerakan serikat buruh – seputar manusiawisasi keadaan di pabrik? Ini perjuangan seputar “kualitas hidup,” dll. bukan? Tentu saja. Itu kenapa saya tidak mengecamnya. Tapi, waktu bicarakan “taraf hidup” buruh di pabrik, apa yang dibicarakan? Anda bicarakan keadaan ekonomi di mana memanusiakan keadaan kerja merupakan persoalan nilai surplus bagi pengusaha. Perbaikan kondisi kerja tersebut dan akibatnya terhadap taraf hidup harus dibiayai dari kantong pengusaha. Akar-akar perjuangan seperti itu sama dengan yang melibatkan gaji – tuntutan ekonomis. Dipanggil nama yang berbeda – tuntutan ekonomis dan tuntutan non-ekonomis – tetapi dari perspektif pengusaha dan sistem, perbedaan tersebut tidak ada, karena ada biaya untuk memanusiakan keadaan kerja.

Bila benar bahwa kapitalisme sudah memecahkan masalah ekonomi, maka kelas buruh dihilangkan sebagai kekuatan motor perubahan sosial. Namun, mempertimbangkan peran pemimpin reformis serikat buruh, yang melihat tujuan kaum buruh hanya sebagai “lebih,” dalam paham Gompers. Pemimpin reformis itu memandang sempit perjuangan kelas dari segi elit. Selama 50 atau 75 tahun, kaum sosialis sudah membongkar semboyan Gomper sebagai reformisme murni, bahwa pemimpin reformis yang mempergunakannya sendiri tidak meyakininya, dan tidak dapat melaksanakannya secara konsekuen. Berkali-kali serikat buruh yang berkolaborasi kelas menyerah perjuangan untuk “lebih” dan bersedia menerima kurang, supaya majikannya tetap bisa berbisnis, atau menyetujui, seperti dalam Perang Dunia II, atas perjanjian untuk tidak mogok. Hanya seorang revolusioner Marxis dapat memaksudkannya secara konsekuen. Perjuangan untuk lebih menjadi revolusioner waktu melampaui kemampuan sistem untuk menyediakan “lebih” tersebut. Itu sambungannya antara perjuangan Marxis bagi reforma dan perspektif revolusioner. Itu bergantung pada ide dasar bahwa masalah ekonomi sistem tidak dapat diselesaikan oleh sistem. Perjuangan kelas bergantung pada “lebih” tersebut. Yang ditegaskan oleh Marx adalah bahwa selama perjuangan untuk “lebih” dari sistem, terlepas apa dampaknya pada sistem itu, perjuangan itu menjadi, akhirnya, perjuangan revolusioner. Akhirnya; tapi tidak pada mulanya. Pada mulanya itu berarti perjuangan untuk reforma dan pengorganisasian di tingkat sosial dan politik yang rendah. Dari sudut Marx, itu yang seharusnya dilakukan.

Kelas secara keseluruhan mulai di tingkat yang jauh lebih rendah dari program Marxis sendiri, tapi program Marxis mengatakan bahwa itu revolusioner dari awal. Dari awal Marx menekankan tujuan pokok – bahwa tujuan utama adalah menggerakkan keseluruhan kelas, dan bahwa pergerakan keseluruhan kelas itu dalam dan dari dirinya sendiri adalah progresif dan revolusioner dalam implikasinya, karena kelasnya sendiri juga begitu. Dan itu benar kalaupun kelas itu, waktu mulai bergerak, bergerak atas dasar yang jauh dari menyenangkan bagi para Marxis atau revolusioner. Itulah konsepsi perjuangan kelas sebagaimana digenggam oleh Marx dan Engels dengan pertimbangan masak-masak dan konsekuen, sesuatu yang jarang oleh orang lain.

Di negara ini, serikat buruh merupakan satu-satunya organisasi kelas bagi kaum proletar. Serikat buruh adalah contoh yang terbaik sebagai organisasi kelas karena mereka mengorganisir hanya anggota dari kelas yang tertentu, untuk alasan tunggal bahwa anggota tersebut tergolong dalam kelas itu. Watak kelas suatu organisasi tidak tergantung pada ide-idenya; bahkan tergantung pada peran objektif dan fungsi dalam masyarakat.

Bagi Marx, Internasional Pertama merupakan gerakan kelas buruh karena mengorganisir kaum buruh. Kelompok propaganda sosialis bukanlah organisasi kelas. Persoalan kelompok propaganda sosialis, bahkan yang terbaik, adalah bagaimana mendirikan hubungan dengan gerakan proletar yang nyata tapi belum sosialis sendiri. Definisi Marx tentang “sektarian” adalah moda pikiran yang melawankan kelompok propaganda sosialis dengan gerakan proletar yang nyata, karena gerakan nyata itu terlalu terbelakang.
Di Amerika Serikat pada 1970 kelas buruh hanya bergerak atas dasar serikat buruh, bukan di tingkat yang memuaskan bagi kita. Karenanya, itu memberikan ujian untuk pertanyaan terakhir yang ingin saya usulkan: Apakah serikat kolaborasi kelas menjalankan perjuangan kelas?

Persoalan di belakang pertanyaan itu merupakan persoalan mendasar membangun gerakan Marxis: hubungannya gerakan Marxis dengan gerakan buruh. Biarkan saya mengajukannya dalam bentuk ekstrim. Ambillah contoh serikat yang busuk, seperti Serikat Teamsters – yang bertindak sebagai buruh pengkhianat terhadap Serikat Buruh Tani (Farmworkers Union), tidak demokratis, rasis, dll.; atau Serikat Tukang Ledeng di New York: Serikat itu menjalankan perjuangan kelas, dari sudut pandang kita, di tingkat yang sangat rendah. Kaum Teamsters menjalankan perjuangan-perjuangan sosial yang paling penuh semangat di negeri ini.

Amerika Serikat, dalam hal-hal tertentu, merupakan negara ideal untuk tujuan-tujuan seperti itu. Di Amerika Serikat terdapat gabungan perjuangan yang penuh semangat, bahkan keras, mengupayakan “lebih,” tergabung dengan praktek-praktek yang mengerikan dan reaksioner. Apakah serikat yang anggotanya tidak mempunyai hak-hak demokratis menjalankan perjuangan kelas? Tentu saja. Harus jelas dalam benak anda bahwa ada perbedaan antara arti objektif perjuangan kelas dan apa yang kita perjuangkan dalam serikat buruh. Sama sekali bukan hal yang sama.

Berkali-kali kaum revolusioner terpesona oleh kebenciannya akan praktek-praktek gerakan serikat buruh – kepemimpinannya, birokrasinya. Jadi terdapat situasi di mana Rosa Luxemburg, dalam Partai, Mogok Massal dan Serikat Buruh, tidak membicarakan persoalan pekerjaan serikat buruh. Keseluruhan karirnya sebagai sosialis revolusioner tidak berkaitan dengan pekerjaan serikat buruh sama sekali. Waktu menemui persoalannya pada 1905-6 di Polandia, di mana dia menghadapi perkembangannya serikat buruh yang sah, partai Rosa Luxemburg, dan dia sendiri, mengambil sikap bahwa mereka melawan pengorganisasian serikat buruh reformis massa yang sah dan mendesak bagi pembentukan serikat buruh di bawah kendali partai saja. Sebagaimana dikatakan oleh penulis riwayat hidupnya, sikap tersebut pasti reaksi terhadap pengalamannya selama satu dekade di Jerman melawan birokrasi serikat buruh Demokrasi Sosial, yang merupakan salah satu sumber reformisme. “Kenapa seharusnya kita membentuk semacam gerakan di Polandia sebagaimana memberatkan kita di Jerman?” Jawabannya meringkas kesemuanya yang sudah kita bicarakan. Di Polandia, sebagaimana di Jerman, serikat buruh menunjukkan kelas buruh sedang bergerak. Tugas bagi revolusioner, adalah memilih antara dua pendekatan yang umum: yang melawankan kondisi nyata kelas itu sedang bergerak dengan program revolusioner anda (seperti dilakukan oleh Luxemburg), atau mengambil sikap yang sama sekali berbeda, menuturkan, “Kita kaum revolusioner; itu di mana terdapat kelas. Oleh karenanya, kita masuk membawa program kita dan mendukung perjuangan yang ada di bawah lapisan birokrasi, agar menunaikan tujuan kita – yakni serangkaian hal-hal terkait gerakan serikat buruh dan serangkaian hal-hal terkait perekrutan anggota serikat buruh ke partai revolusioner kita.”

Dan jika benar, yang mungkin sekali, bahwa Luxemburg tidak ingin membangun semacam serikat buruh reformis massa sebagaimana dilawannya di Jerman, juga benar bahwa dia tidak ada gagasan untuk mengorganisir perjuangan di dalam gerakan serikat buruh Jerman terhadap birokrasi, justru seperti dia tidak pernah mengajukan gagasan untuk pengorganisasian perjuangan di dalam partai Jerman, yang diketahuinya semakin buruk. Itulah kegagalannya. Sikap revolusioner menggabungkan pendekatan pada kelas buruh pada waktu sekarang dengan perspektif revolusioner, tanpa ketidaksepahaman yang begitu melumpuhkan, yang terlalu terbiasa diantara kaum revolusioner, atas keadaan gerakan serikat buruh.

2 Oktober, 1970

1 COMMENT

  1. Kaum borjuis memiliki control terhadap mobilitas modal, ketika suatu Perjuangan Kelas hanya hebat di satu negara tetapi tidak di negara lain maka, kaum modal dapat memindahkan modalnya dari negara itu kepada negara lain yang tidak terjadi perjuangan kelas. Ini yang selalu digunakan sebagai amunisi kaum borjuis, “Kalau Kamu menuntut banyak saya gampang saja akan memindahkan modal saya ke negara tetangga”. Itu untuk menunjukkan bahwa beliau sangat berkuasa dan itu memang benar, makanya harus international.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here