Kaum sosialis di pusat kegiatan dalam berjuang membela dan melanjutkan revolusi yang mulai dua tahun yang lalu bulan ini. Anne Alexander berbicara dengan anggota Sosialis Revolusioner mengenai bagaimana koran mereka membantu membangun perjuangannya.

Dua tahun yang lalu bulan ini, unjuk rasa massa dan pemogokan di Mesir menjatuhkan diktator Hosni Mubarak yang dibenci.

Sejak itu koran Sosialis Revolusioner (SR), Al-Ishtaraki, atau Sang Sosialis, sudah menjadi penglihatan yang terkaenal di unjuk rasa dan barisan penjaga para pemogok. Judulnya yang berwarna merah dan putih merupakan tanda publik kepercayaan diri yang kian tumbuh di kalangan kiri revolusioner Mesir.

Mohammed Hosny, seorang anggota dewan redaksinya, merasa kaget waktu pembaca baru mulai mencari-cari korannya. Dia ingat, “Suatu waktu ada orang laki-laki bilang, ‘saya sudah mencari-cari anda.’ Saya kira dia ingin kembalikan korannya. Dia bilang, ‘tidak, saya ingin tujuh.’

“Ini orang yang sangat biasa. Uang yang dia bayar untuk setiap koran merupakan ongkos untuk empat buah roti. Tapi dia cukup diyakini oleh argumen dalam koran sehingga dia kembali untuk membelinya untuk rekan-rekannya.”

Sebelum mulainya revolusi keadaannya jauh berbeda. “Kami mungkin ditangkap kapan saja,” kata Mohammed. “Suatu saat semuanya diam, lalu datanglah gelombang penangkapan.”

Dulu, koran bulanan jarang menjangkau pembaca di luar aktivis yang sudah sungguh hati. “Dulu kami mencetak 1.000 koran, namun menjual ratusan saja,” jelaskan anggota SR Ashraf Omar. “Tidak ada banyak aktivitas. Hampir tidak ada kesempatan apapun untuk menjual secara terbuka di jalan.”

Beli, baca dan jual Sang SosialisPemberontakan

Tapi jutaan orang turun ke jalan selama pemberontakan melawan Mubarak pada Januari 2011.
Perdebatan tajam terjadi tentang peran koran sosialis kami. “Kami bertengkar tentang penggunaan koran di jalan,” kata Mohammed. Pada awalnya pada tingkat jurnalistis, korannya sangat lemah, amatir sekali.

“Namun cepat korannya mulai disebarkan dan dibaca. Kami membuat artikel pendek dengan judul kuat, dan ada orang yang menolak mengambilnya karena mengangkat semboyan melawan kekuasaan militer. Setelah itu orang bilang, ‘Anda melawan militer sejak hari pertam’.”

Korannya membuat organisasi Sosialis Revolusioner lebih kelihatan sebagai kelompok terorganisir di Lapangan Tahrir di Kairo. “Orang datang ke tempat khusus untuk ambil koran kami dan kemudian menjualnya,” jelaskan Mohammed.

“Pada awalnya kawan-kawan tidak tahu bagaimana menjualnya dan mereka lepaskannya saja dan kemudian lari. Tapi sebentar sewaktu orang melihat kami dengan Koran, mereka dating bertanya, ‘Itu Koran apa?’ ‘Kenapa anda menjualnya?’”

Sesuatu yang membedakan Sang Sosialis dari banyak terbitan lain adalah fakta bahwa koran kami dijual, tidak diberi gratis. Dewan militer Mesir yang berkuasa menggelorakan tentang “pengaruh asing” yang ternyata menyelewengkan revolusi melalui pendanaan rahasia.

“Whenever people said to us ‘Why are you selling the paper?’ we could reply, ‘Because we don’t get any funding,” said Mohammed. “It was like a magic word.”

“Kapan saja orang bertanya ‘Kenapa anda menjual koran?’ kami jawab, ’Karena kami tidak dapat pendanaan apapun,” kata Mohammed. “It seperti kata ajaib.”

Penggulingan

Kehormatan aktivis revolusioner untuk koran kami diuji pada Desember 2011. Pengadilan melakukan penyidikan tentang SR, menuduh kami berencana menumbangkan negara.

Mohammed mengingat ketakutan dan kegembiraan dengan berkumpulnya aktivis SR di Lapangan Tahrir untuk menjual koran. “Itu semacam ujian,” katanya. “Dan ada kemungkinan resiko besar.
“Jadi kami memasang meja di Lapangan dan mulai berteriak, “Ya, kami ingin gulingkan negara.’ Dan meskipun penyelidikan melawan kami, orang berkerumun untuk membeli Koran.”

Peredaran Sang Sosialis kecil dibandingkan jumlah orang yang terlibat dalam perjuangan Revolusi Mesir.
Umumnya jumlah koran yang diterbit antara satu dan tiga ribu. Apalagi, kaum pembacanya cukup kecil dibandingkan puluhan ribu pengikut Socialis Revolusioner di media sosial. Akun Twitter resmi SR mempunyai 75.000 pengikut.

Keberhasilan sederhana mungkin ternyata kecil dibandingkan tugas-tugas raksasa yang dihadapi kaum kiri revolusioner di Mesir. Tapi Koran kami sudah memainkan peran utama dalam meyakinkan generasi baru tentang ide-ide sosialis.

‘Kami sebarkan 1.000 koran terbitan nomor 101. Kami membuat 2.000 terbitan yang berikutnya.’

Perkembangan koran revolusioner berubah dengan ombang-ambingnya revolusi Mesir.

Pada musim semi 2012 revolusi memasuki tahap yang berbeda dimana gelombang demonstrasi mulai surut.

“Pada mulanya kami tergantung pada unjuk rasa besar untuk menyebarkan koran,” jelaskan anggota SR Ashraf.

“Dengan surutnya kami tahu bahwa kami seharusnya membangun jaringan distribusi di kampus, di tempat kerja dan di daerah lain.”

Kelompok SR sudah mulai meluaskan aktivitasnya ke desa baru dan kota di sepanjang Mesir, seperti Suez dan Port Said di Zona Kanal.

Dalam kasus-kasus yang tertentu hubungan pertama dengan lapisan baru aktivis revolusioner terjalin melalui penjualan koran. Dalam kata lain, aktivis SR yang datang dengan korannya disambut oleh revolusioner muda yang sudah akrab dengan publikasi online tapi ingin bertemu orangnya di dunia nyata.
Mohammed melihat kontak bertatapan ini sangat penting untuk membuat kaum pembaca online yang relatif pasif menjadi sosialis revolusioner. “Ada suatu interaksi dengan pembaca yang langsung dan nyata,” katanya.

“Tercatat online bahwa 700.000 orang akan datang ke sesuatu tetapi sebenarnya hanya 700 datang. Menjual koran menciptakan hubungan fisik langsung dengan orang dan langsung mewujudkan aktivitas.”

Selama musim panas 2012, kelompok SR mengorganisir kampanye nasionalnya yang paling ambisius sampai saat ini. Aktivis pergi ke puluhan desa dan kota untuk berkampanye tentang masalah sosial yang pemerintah baru Ikhwanul Muslimin ingin mengabaikan.

Spanduk

Di bawah spanduk berjudul “Kami ingin hidup” mereka ikut serta dengan orang yang memprotes kekurangan roti, potongan air dan listrik, pengangguran dan krisis pelayanan kesehatan.

Kampanye membantu menyebarkan koran ke daerah baru. Pada Oktober tahun lalu distribusi Sang Sosialis tidak lagi tergantung pada protes besar di jalan. “Kami menyebarkan 1.000 terbitan nomor 101” ingat Ashraf. “Dan nomor berikutnya kami terbit 2.000 dan mendistribusikan 90-95 persen.”

Isi dalam koran juga perlu berubah untuk mengatasi tantangan revolusi. “Kami melihat gelombang besar pemogokan akhir-akhir ini,” jelaskan Ashraf.

“Serikat buruh independen sedang berkembang, tapi mereka punya masalah. Tidak cukup melaporkan mogok saja – kami perlu menganalisa dan berargumentasi tentang langkah-langkah apa yang mesti dilakukan berikutnya.”

Ashraf menekankan pentingnya mendapat keseimbangan antara unsur yang berbeda dalam koran. “Pertama adalah teori,” katanya. “Tidak mungkin kalau ada koran tanpa teori. Kedua, seharusnya analisa. Ketiga, kami memasukkan pengalaman sejarah.

“Keempat, kami menggunakan koran untuk beragitasi. Tulisan agitasi tidak hanya tentang mengangkat semboyan langsung: ‘Mogok!’, ‘mengeduduki sekarang juga!’ dan sebagainya. Sebaiknya membicarakan keadaan konkrit, dan menyebutkan taktik untuk perjuangan.”

Koran itu masih berkembang. Tapi Mohammed berkata bahwa korannya sudah mendapat keberhasilan yang penting. “Kami sudah meyakinkan orang bahwa kami menjual koran di tengah pertengkaran di jalan,” katanya. “Kami sudah membuktikan bahwa orang yang menulis untuk koran tidak seharusnya jurnalis profesional.”

“Kami sudah menunjukkan bahwa koran bisa menjadi titik awal untuk aktivitas di tempat di mana tidak ada apa. Di desa di mana kami tidak ada orang apapun, kami mulai dengan koran.”

‘Menjual di jalan cukup baru’

Bissan Kassab adalah anggota Sosialis Revolusioner di Mesir. Dia menjelaskan pengalamannya menjual Sang Sosialis di jalan setelah pendukung Ikhwanul Muslimin menyerang unjuk rasa terhadap perubahan konstitusi presiden Mursi bulan yang lalu.

“Sosialis Revolusioner mengorganisir protes,” katanya. Sambil orang berkumpul, saya menjual Sang Sosialis kepada orang yang melewati. Hampir tidak orang pun yang menolak ambil koran. Saya menjual kepada sopir bis, orang dalam taksi, pengendara motor, semuanya.

“Orang merasa kejut bahwa Ikhwanul, sebuah partai yang dipilih untuk pemerintah, dapat menyerang unjuk rasa. Orang bertanya banyak pertanyaan. Setiap pojok jalan menjadi rapat politik, dari pasar sayuran sampai Metro.

“Orang yang pikir, tidak lama sebelumnya, bahwa politik itu milik orang terdidik, sekarang menyadari bahwa politik itu milik kita semua. Saya menjual kepada ibu rumah tangga yang terasingkan dari kehidupan politik. Saya kaget bahwa sebanyak orang itu membeli koran.

“Terdapat sebuah hasrat umum untuk publikasi terbitan, tapi khususnya koran seperti Sang Sosialis. Itu memberikan analisa dan itulah membuat orang berhajat membaca pada semua waktu.”

Diterjemahkan dari Socialist Worker UK oleh Lachlan Marshall
12 Januari 2013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here